Tampilkan postingan dengan label Habib Novel bin Muhammad al-Aydrus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib Novel bin Muhammad al-Aydrus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Februari 2014

Kajian Ar Raudhah tadi malam 7 Februari 2014


Rekaman Kajian Ar Raudhah tadi malam 7 Februari 2014 membahas tentang Keistimewaan Bismillah 
Amalkan sebelum tidur baca 21 x 
1. Rumahnya akan terjaga dari pencuri
2. Dalam tidurnya tidak diganggu setan
3. Tidak akan mati mendadak

Silahkan download bagi yang ingin mendengarkan ceramah Habib Naufal bin Muhammad Alaydrus tentang Keistimewaan Bismillah
https://archive.org/download/mp3arraudhah/KajianArRaudhah7Februari2014RahasiaBismillah.mp3

Senin, 30 Desember 2013

Kamis, 07 November 2013

Hukum mengkafirkan atau memusyrikkan sesama Muslim




(oleh Habib Noval bin Muhammad al-‘Aydrus, Solo)


Saudaraku, di akhir zaman ini, banyak orang yang belum mengetahui dan belum memahami hal-hal yang dapat menyebabkan seseorang menjadi musyrik, kufur, murtad, keluar dari Islam. Ketidaktahuan ini telah membuat banyak orang mengucapkan kalimat-kalimat yang dapat membuat mereka keluar dari Islam tanpa mereka sadari. Permasalahan ini sangat berbahaya, karena menyangkut keislaman kita. Para ulama menyebutkan bahwa seseorang yang tidak mengenal keburukan (kejahatan),  maka dia akan terjerumus ke dalamnya.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Mp3 Majelis ar-Raudhah Solo Oktober 2013


Rekaman MP3 bulan Oktober 2013
 Majelis ar-Raudhah Solo pimpinan Maulana Habib Noval bin Muhammad Alaydrus

Link download
Pengajian Jum'at malam bulan Oktober 2013

Selasa, 08 Oktober 2013

Membersihkan hati ketika akan tidur

foto diambil dari http://www.google.com/imgres?imgurl=http://mihrabqolbi.com/gambar/artikel/artikel-indahnya-saling-memaafkan58_a.jpg&imgrefurl=http://mihrabqolbi.com/artikel/detail/58/indahnya-saling-memaafkan.html&h=299&w=450&sz=14&tbnid=-KNxl9SkT3UT5M:&tbnh=90&tbnw=135&zoom=1&usg=__vXOD8LqFE4GOJfBd6TLtvIzIjVU=&docid=ibhPJx1PaE2ynM&sa=X&ei=z0FTUqPFKIjBrAf9s4HIAg&ved=0CDYQ9QEwBA


Hendaknya seseorang tidur dengan hati yang bersih, tidak menyimpan kebencian apalagi dendam kepada siapapun sesama muslim. Bahkan justru memaafkan semua orang yang telah berbuat buruk kepadanya. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Najjar disebutkan bahwa seorang sahabat yang bernama 'Ulbah bin Zaid, saat akan tidur memaafkan setiap orang yang berbuat salah kepadanya dengan membaca do'a berikut:

أللهم إنيّ تصدقت بعرضي على من ناله من خلقك

Allahumma inni tasaddaqtu bi ardiy'ala man naa lahu min khalqika

"Duhai Allah sesungguhnya kusedekahkan semua kehormatanku kepada siapapun makhluk-Mu yang berdosa karena mendzalimiku."

Jumat, 04 Oktober 2013

Istighatsah dengan yang telah meninggal



Kita mungkin sering melihat dan mendengar seseorang menziarahi makam waliyullah, seorang yang shaleh, kemudian berkata: “Wahai syeikh Fulan, do’akan kami agar kami bisa menjadi Muslim yang baik, dapat mendidik anak kami dengan benar...” dan hal-hal serupa lainnya.  Pertanyannya, bolehkah itu dilakukan? Apakah itu termasuk istighatsah?

Majelis ar-Raudhah Solo bersama al-Habib Noval bin Muhammad Alaydrus tanggal 1, dan2 Oktober 2013


Habib Noval bin Muhammad Alaydrus
Kursus Pesholatan 01 Oktober 2013

Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi feat Habib Noval bin Muhammad Alaydrus
 Kursus pesholatan 02 Oktober 2013

file video

Kursus pesholatan 01 Oktober 2013

 Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi feat Habib Noval bin Muhammad Alaydrus
Kursus pesholatan 02 Oktober 2013

Sabtu, 28 September 2013

Pengajian ar-Raudhah (SOLO)

ustadzuna al-Habib Noval bin Muhammad Alaydrus (SOLO)


 Pengajian ar-Raudhah (Solo-Jawa Tengah) kemarin malam  bersama ustadzuna al-Habib Noval bin Muhammad Alaydrus

File audio format amr

Kamis, 26 September 2013

Istighatasah (memohon pertolongan) dengan yang hidup

ustadzuna al-Habib Noval bin Muhammad Alaydrus (Solo)




Pertama, dalam shahih Bukhari diceritakan pada hari Jum’at, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri menyampaikan khutbah, tiba-tiba datang seorang lelaki lewat pintu mesjid yang menghadap ke Mimbar. Ia tepat berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Duhai Rasulullah, hewan-hewan, ternak-ternak telah binasa, dan jalan-jalan terputus. Berdo’alah kepada Allah agar IA menurunkan hujan kepada kita semua.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau dan berdo’a, “Ya Allah berilah kami hujan.” Do’a Rasulpun terkabul, hujan turun selama seminggu sehingga lelaki tersebut datang kembali dan meminta Rasul untuk berdo’a agar hujan berhenti.

Saudaraku, bukankah Allah subhanahu wa taala Maha Mendengar, dan Maha Mengabulkan do’a setiap Muslim yang memohon kepada-Nya. Lalu mengapa lelaki tersebut tidak berdo’a sendiri? Dan mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkata, “Mintalah kepada Allah secara langsung, tidak perlu meminta pertolonganku.” Sebab lelaki tersebut menyadari dirinya yang penuh kekurangan. Ia sadar bahwa dirinya belum memenuhi semua syarat terkabulnya do’a. Ia pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau shallallahu alaihi wa sallam untu mendo’akannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menolak permohonannya, sebab,  sudah menjadi tanggung jawab setiap Muslim, terutama pemimpinnya untuk menolong saudaranya sesama Muslim dengan segenap kemampuan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa taala kepadanya. Inilah yang disebut dengan istighatsah.

Selasa, 24 September 2013

Istighatsah (memohon pertolongan)




Ustadzuna al-Habib Noval bin Muhammad Alaydrus (Solo)
(Oleh: ustadzuna al-Habib Noval bin Muhammad Alaydrus)

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa dalam kehidupan ini kita harus saling tolong menolong. Allah tidak pernah melarang hamba-Nya. Hanya saja, Allah mengingatkan seluruh hamba-Nya bahwa hakikatnya hanya DIA (Allah) lah yang dapat memberi pertolongan. Semua ciptaan Allah sama sekali tidak kuasa untuk berbuat sesuatu tanpa izin dari-Nya. Oleh karena itu, sedikitnya 17 kali dalam sehari kita diperintahkan untuk membaca wahyu-Nya yang berbunyi
إيّاك نعبد وإياك نستعين
“Hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Ayat ini dibaca berulang-ulang agar kita ingat bahwa pada hakikatnya hanya Allah lah yang dapat memberikan pertolongan. Inilah keyakinan yang harus tertanam kuat dalam hati dan teringat selalu setiapkali meminta tolong kepada seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إذا سألت فسأل الله وإذا ستعنت فاستعن بالله
“Jika engkau meminta sesuatu, maka memintalah kepada Allah, jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR Tirmidzi, dan Ahmad)

Sayangnya ada sebagian orang yang salah dalam memahami ayat dan hadis di atas dan menganggap orang-orang yang meminta do’a dan pertolongan kepada ulama telah berbuat syirik.

Saudaraku, kita semua meyakini bahwa hanya Allah lah yang dapat menolong kita. Hanya DIA lah yang dapat memberi manfaat dan mencegah keburukan. Itulah keyakinan semua umat Islam. Tetapi apakah dengan demikian apakah kita tidak boleh meminta pertolongan kepada makhluk yang DIA beri keistimewaan? Padahal Allah telah mewahyukan
و تعاون على البر والتقوى
“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan.”(al-Maidah 5:2)
Di samping itu juga banyak Hadis yang mengajarkan kita agar saling tolong menolong
والله فى عون العبد ما كان العبد فى عون أخيه
“Dan sesungguhnya Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama dia masih menolong saudaranya.” (HR Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud,  Ibnu Majah, dan Ahmad)

Saudarakau, yang Maha Memberikan Pertolongan hanya Allah, akan tetapi Allah menurunkan pertolongan tersebut dengan dua cara, yaitu secara langsung atau dengan sebab tertentu. Sebagai contoh adalah seseorang yang sakit, kita semua mengetahui bahwa yang Maha Menyembuhkan hanya Allah. Akan tetapi,  untuk memperoleh kesembuhan tersebut kita dianjurkan untuk meminta pertolongan dokter atau tenaga ahli lainnya.

Wallahu a’lam.

Senin, 23 September 2013

Tawassul sayidina ‘Umar radhiyallahu 'anhu dengan sayidina ‘Abbas radhiyallahu 'anhu





Dalam shahih Bukhari, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa dahulu jika musim paceklik, sayidina  ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meminta hujan dengan bertawassul kepada sayidina ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib. Sayidina ‘Umar berkata dalam do’anya
أللهمّ إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا نتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا
“Ya Allah, sesungguhnya dahulu ketika berdo’a kepada-Mu kami bertawassul dengan Nabi-Mu, Engkaupun menurunkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami berdo’a kepada-Mu dengan bertawassul dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan.” (HR Bukhari)

Tidak lama setelah itu, Allah menurunkan hujan kepada mereka semua.
Di atas disebutkan dengan jelas bahwa sayidina ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bertawassul dengan sayidina ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada sebagian yang menggunakan atsar ini sebagai dalil bahwa tawassul dengan orang yang sudah meninggal tidak boleh, sebab sayyidina ‘Umar bertawassul dengan sayidina ‘Abbas yang masih hidup. Pendapat seperti ini tidak tepat, sebab dalam kenyataannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  mencontohkan kepada kita bertawassul kepada yang hidup maupun yang sudah meninggal. Begitu pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum lainnya sebagaimana diceritakan tentang seorang tuna netra di zaman kekhalifahan sayidina ‘Usman radhiyallahu ‘anhu. Lalu apa maksud tawassul sayidina ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dengan sayidina ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu yang masih hidup? Tujuan beliau adalah untuk mengajarkan dan mencontohkan kepada semua sahabat, bahwa tawassul dengan selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh dan dapat dilakukan. Beliau radhiyallahu ‘anhu menunjuk sayidina ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu karena kedekatan sayidina ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sayidina ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu merupakan paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kesimpulannya,  tawassul merupakan salah satu bentuk do’a. Beberapa Hadis yang telah lalu disebutkan  membuktikan bahwa tawassul dengan amal shaleh sendiri dan dengan orang lain yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, merupakan bagian ajaran Islam. Oleh karena itu, mari kita berhati-hati dan tidak menuduh seorang muslim telah berbuat syirik hanya karena bertawassul dengan mereka yang telah meninggal dunia.

(Sumber ustadzuna al-Habib Noval bin Muhammad Alaydrus)

Minggu, 22 September 2013

Tawassul para sahabat radhiyallahu 'anhum dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam





Dalam sunan Tirmidzi disebutkan bahwa Usman bin Hunaif radhiyallahu anhu berkata, “ada seorang lelaki tuna netra datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau untuk mendo’akannya agar dapat melihat kembali. Pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua pilihan kepadanya, yaitu dido’akan sembuh atau bersabar dengan kebutaannya tersebut. Lelaki tersebut minta didoakan agar dapat melihat kembali. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya untuk berwudu dan berdoa
 " اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى لِيَ، اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ ".
Ya Allah sesungguhnya aku memohon dan berdo’a kepada-Mu dengan (bertawassul dengan) Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang penuh kasih sayang. (Duhai Rasul) Sesungguhnya aku telah bertawajjuh kepada Tuhanku dengan (bertawassul)-mu agar hajatku terkabul. Ya Allah terimalah syafaat beliau untukku.” (HR Tirmidzi, dan Abu Dawud).

Imam Tirmidzi menyatakan Hadis ini sebagai Hadis Hasan Shahih. Imam Hakim dan adz-Dzahabi juga menyatakan Hadis ini sebagai Hadis Shahih.

Saudaraku, dalam hadis di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita bertawassul dengan beliau. Tawassul seperti ini tidak hanya berlaku ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, akan tetapi juga berlaku setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Buktinya sejumlah sahabat menggunakan tawassul ini sepeninggal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan mereka radhiyallahu ‘anhum mengajarkannya kepada orang lain. Ketika menyebutkan Hadis di atas, Imam at-Thabrani bahwa ada seorang lelaki yang sering mengunjungi khalifah ‘Usman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu untuk menyampaikan kepentingannya. Tetapi khalifah ‘Usman bin ‘Affan tidak sempat memperhatikannya. Ketika bertemu Usman bin Hunaif, lelaki itu menceritakan masalah yang ia hadapi. Usman bin Hunaif kemudian memerintahkan lelaki itu untuk berwudu, mengerjakan shalat du rakaat di Mesjid, membaca doa di bawah ini dan kemudian mendatanginya untuk diajak pergi menemui sayidina ‘Usman. Inilah doanya:
"اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمد، صلى الله عليه وسلم، نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي جلّ و عزّ فيقضي لي حاجتي"
“ Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan bertawajjuh kepada-Mu dengan (bertawassul dengan) Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi yang penuh kasih. Duhai Muhammad, sesungguhnya dengan bertwassul denganmu aku bertawajjuh kepada Allah Tuhanmu dan Tuhanku yang Maha Agung, dan Maha Mulia agar Ia (Allah taala) mewujudkan hajatku.”

Setelah melaksanakan saran Usman bin Hunaif, lelaki itu menemui khalifah Usman bin Affan. Sesampainya di depan pintu, penjaga menyambutnya, membawanya masuk dan menggandeng tangannya. Sayyidina Usman mendudukkannya di permadani tipis di dekatnya kemudian bertanya kepadanya, “apa hajatmu?” setelah lelaki itu menyebutkan semua hajatnya, sayyidina Usman radhiyallahu ‘anhu pun memenuhi permintaannya. Kemudian beliau radhiyallahu ‘anhu berkata “Kenapa baru sekarang engkau sampaikan hajatmu?” Setiap kali engkau memerlukan sesuatu, segeralah datang kemari.”

Ketika meninggalkan kediaman sayidina ‘Usman ra, lelaki itu bertemu dengan ‘Usman bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu.

“Semoga Allah taala membalas kebaikanmu. Sebelum engkau menceritakan perihalku kepadanya, beliau tidak pernah memperhatikan hajatku maupun memandangku.” Kata lelaki tersebut kepada ‘Usman bin Hunaif.

“Demi Allah, aku tidak mengatakan apa-apa kepada beliau radhiyallahu ‘anhu. Hanya saja aku pernah seorang lelaki tuna netra datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan kebutuhannya (sampai akhir cerita seperti yang di atas).

Saudaraku, cerita di atas membuktikan bahwa para sahabat juga bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber: Ustdazuna al-Habib Noval bin Muhammad Alaydrus, Solo, dalam buku beliau Mana Dalilnya 1.